Butuh Bantuan? Hubungi Kami
WhatsApp LPK JINET

Jangan Sampai Ditegur Tetangga! Panduan Memilah Sampah (Gomi no Bunbetsu) di Jepang

Panduan memilah sampah (gomi no bunbetsu) di Jepang
Panduan Memilah Sampah (Gomi no Bunbetsu) di Jepang

Bagi warga asing yang baru pertama kali tinggal di Jepang, salah satu hal yang perlu dipelajari sejak awal adalah cara memilah dan membuang sampah atau gomi no bunbetsu (ごみの分別).

Berbeda dengan Indonesia, pembuangan sampah di Jepang umumnya mengikuti aturan yang cukup terperinci. Jenis sampah, jadwal pengumpulan, lokasi pembuangan, hingga penggunaan kantong sampah tertentu dapat berbeda antara satu kota atau wilayah dengan wilayah lainnya.

Karena itu, mengetahui aturan setempat bukan hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dari kemampuan beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari di Jepang.

Bagi pekerja asing, termasuk peserta program kerja dan pelatihan dari Indonesia, memahami aturan sederhana seperti pemilahan sampah dapat membantu menghindari kesalahpahaman dengan lingkungan tempat tinggal.

1. Apa Itu Gomi no Bunbetsu?

Gomi no bunbetsu berarti pemilahan sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang.

Di Jepang, tidak semua sampah dapat dimasukkan ke dalam satu kantong. Pemerintah daerah biasanya menetapkan kategori, jadwal, serta metode pengumpulan berdasarkan sistem pengelolaan sampah di wilayah masing-masing. Beberapa kategori yang umum ditemukan antara lain:

Sampah yang Dapat Dibakar (Moeru Gomi)

Kategori ini umumnya mencakup sisa makanan, sampah dapur, kertas tertentu, dan berbagai jenis sampah rumah tangga yang dapat dibakar.

Namun, daftar barang yang masuk kategori ini dapat berbeda antarwilayah. Karena itu, jangan hanya mengandalkan nama kategorinya. Periksa panduan sampah yang dikeluarkan pemerintah daerah tempat Anda tinggal.

Sampah Tidak Dapat Dibakar (Moenai Gomi)

Di sejumlah wilayah, kategori ini dapat mencakup barang-barang seperti benda logam tertentu, kaca, keramik, atau barang rumah tangga tertentu yang tidak termasuk sampah yang dapat dibakar. Sekali lagi, jenis barang yang masuk kategori ini tidak selalu sama di setiap daerah.

Sampah Daur Ulang (Shigen Gomi)

Sampah yang dapat didaur ulang dapat mencakup botol kaca, kaleng, botol PET, kertas atau kardus, serta jenis bahan lainnya sesuai sistem pemerintah daerah.

Untuk botol PET, misalnya, beberapa wilayah mengharuskan tutup dan label dilepas, botol dibilas ringan, kemudian dikempiskan sebelum dibuang. Shinjuku, Tokyo, merupakan salah satu contoh wilayah yang menerapkan prosedur tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa cara membuang sampah harus mengikuti panduan pemerintah daerah setempat, bukan hanya mengikuti aturan yang berlaku di daerah lain.

Sampah Berukuran Besar (Sodai Gomi)

Barang berukuran besar seperti furnitur, kasur, atau sepeda umumnya tidak boleh langsung diletakkan di tempat pembuangan sampah rumah tangga biasa.

Di banyak wilayah, warga perlu mengajukan permohonan pengumpulan terlebih dahulu dan membayar biaya sesuai jenis serta ukuran barang. Sistem dan biaya pengumpulan dapat berbeda tergantung pemerintah daerah.

Karena itu, sebelum membuang barang berukuran besar, periksa prosedur sodai gomi di kota atau wilayah tempat Anda tinggal.

2. Jadwal dan Tempat Membuang Sampah Tidak Boleh Diabaikan

Salah satu perbedaan yang perlu diperhatikan ketika tinggal di Jepang adalah adanya jadwal pengumpulan sampah berdasarkan jenisnya.

Misalnya, sampah yang dapat dibakar mungkin dikumpulkan pada hari tertentu, sedangkan sampah daur ulang atau sampah yang tidak dapat dibakar memiliki jadwal yang berbeda.

Jadwal tersebut tidak berlaku secara nasional. Pemerintah daerah dan bahkan lingkungan tempat tinggal tertentu dapat memiliki aturan yang berbeda. Oleh karena itu, setelah tiba di Jepang, tanyakan kepada:

  1. Perusahaan atau pihak yang bertanggung jawab atas tempat tinggal Anda
  2. Pengelola apartemen atau asrama
  3. Pemerintah daerah atau kantor kota setempat

Perhatikan Waktu Pembuangan

Jangan berasumsi bahwa sampah boleh dikeluarkan kapan saja.

Setiap wilayah dapat menentukan waktu penempatan sampah sebelum petugas melakukan pengumpulan. Ada daerah yang meminta sampah dikeluarkan pada pagi hari di hari pengumpulan.

Sebagai contoh, Shinjuku menetapkan agar botol PET ditempatkan pada pagi hari pengumpulan dan mencantumkan batas waktu pukul 08.00 untuk lokasi tertentu. Namun, aturan tersebut merupakan aturan setempat dan tidak dapat dijadikan patokan untuk seluruh Jepang.

Jangan Sembarangan Memilih Kantong Sampah

Beberapa pemerintah daerah menggunakan kantong sampah resmi atau menetapkan jenis kantong tertentu, sementara daerah lain memiliki aturan berbeda.

Karena itu, sebelum membeli kantong sampah, pastikan Anda mengetahui ketentuan di wilayah tempat tinggal.

3. Apa yang Terjadi Jika Salah Memilah Sampah?

Kesalahan dalam memilah sampah tidak selalu berujung pada hukuman pidana.

Dalam praktiknya, salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah sampah tidak diangkut karena tidak sesuai dengan aturan pengumpulan. Di sejumlah daerah, warga juga dapat diberikan pemberitahuan atau peringatan agar sampah tersebut diperbaiki dan dikeluarkan kembali sesuai ketentuan. Hal ini dapat menimbulkan masalah apabila kesalahan dilakukan berulang kali, terutama jika mengganggu area bersama atau lingkungan tempat tinggal.

Karena itu, meskipun terlihat seperti persoalan kecil, aturan sampah sebaiknya tetap dianggap serius.

4. Apakah Ada Denda untuk Pelanggaran Sampah di Jepang?

Ada perbedaan penting antara salah memilah sampah dan membuang sampah secara ilegal. Jangan sampai keduanya dianggap sebagai hal yang sama.

Jepang memiliki Waste Management and Public Cleansing Law atau Undang-Undang Pengelolaan Limbah dan Kebersihan Publik yang mengatur pengelolaan sampah dan melarang pembuangan limbah secara ilegal.

Pelanggaran seperti illegal dumping (fuhō tōki) dapat dikenai sanksi pidana. Ketentuan pidana dalam undang-undang tersebut mencakup hukuman penjara dan denda, dengan besaran yang bergantung pada jenis pelanggaran dan ketentuan yang berlaku. Kementerian Lingkungan Jepang juga mencatat adanya penguatan sanksi terhadap tindakan pembuangan ilegal.

Namun, jangan menyimpulkan bahwa orang yang salah memilah satu kantong sampah otomatis akan didenda hingga jutaan yen atau dipenjara.

Untuk kehidupan sehari-hari, hal yang paling penting adalah mengikuti panduan pemerintah daerah dan tidak membuang sampah sembarangan.

5. Cara Paling Aman: Ikuti Aturan Daerah Tempat Anda Tinggal

Jika Anda baru tiba di Jepang, jangan langsung berasumsi bahwa aturan sampah di tempat Anda tinggal sama dengan informasi yang pernah Anda baca di internet. Sistem pengelolaan sampah memang berbeda antarwilayah.

Bahkan Immigration Services Agency of Japan secara khusus menyediakan informasi bagi warga asing mengenai aturan kehidupan sehari-hari di Jepang, termasuk tata cara membuang sampah. Panduan tersebut juga tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Karena itu, biasakan melakukan beberapa hal berikut:

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu Anda menghindari kesalahan dan menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar.

6. Belajar Aturan Kehidupan Jepang Sebelum Berangkat

Kemampuan beradaptasi di Jepang tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan dan kemampuan bahasa.

Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuang sampah, menjaga kebersihan tempat tinggal, menggunakan fasilitas umum, dan mengikuti aturan lingkungan, juga merupakan bagian dari kehidupan di Jepang.

Bagi calon pekerja Indonesia, memahami hal-hal tersebut sebelum keberangkatan dapat membantu membangun ekspektasi yang lebih realistis mengenai kehidupan di Jepang.

Persiapkan Diri Sebelum Berangkat Bersama LPK Jinet

Persiapan menuju Jepang tidak berhenti pada kemampuan bahasa dan keterampilan kerja. Pemahaman mengenai budaya serta kebiasaan hidup sehari-hari juga penting untuk membantu peserta beradaptasi dengan lingkungan baru.

Di LPK Jinet, pembekalan peserta mencakup bahasa Jepang, budaya kerja, kedisiplinan, serta persiapan menghadapi kehidupan di Jepang.

Salah satu hal yang dapat diperkenalkan selama masa pelatihan adalah kebiasaan menjaga kebersihan dan mengikuti aturan hidup bersama, termasuk memahami pentingnya pemilahan sampah dan ketertiban lingkungan.

Tujuannya bukan agar peserta menghafal semua aturan setiap kota di Jepang, karena aturan tersebut memang dapat berbeda berdasarkan wilayah. Sebaliknya, peserta diharapkan memiliki kebiasaan untuk bertanya, membaca panduan, dan mengikuti aturan lokal ketika sudah berada di Jepang. Sikap seperti inilah yang penting ketika tinggal dan bekerja di lingkungan baru.

LPK Jinet membantu mempersiapkan peserta melalui pembelajaran bahasa Jepang dan pembekalan yang berkaitan dengan budaya serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja dan kehidupan di Jepang.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Berapa lama pelatihan di LPK JINET sebelum berangkat ke Jepang?

Pelatihan terdiri dari 1 bulan kelas Pra Job Matching, kemudian dilanjutkan 6 bulan pelatihan intensif setelah peserta lolos interview perusahaan Jepang.

Apakah LPK JINET sudah terdaftar resmi sebagai Sending Organization?

Ya, LPK JINET sudah terdaftar resmi di Kementerian Tenaga Kerja sebagai LPK Sending Organization dengan Izin SO Nomor: 2/292/HK.03.01/II/2024.

Apa saja bidang pekerjaan yang tersedia di program magang Jepang?

Bidang yang tersedia antara lain pengolahan makanan, pertanian, dan konstruksi. Bidang disesuaikan dengan kualifikasi dan minat peserta.